Tuesday, 3 November 2015

Agatha Christie - Misteri di Styles - BAB DUA BELAS

BAB DUA BELAS
MATA RANTAI TERAKHIR


Kepergian Poirot yang tiba-tiba itu membuat kami semakin ingin tahu, Minggu pagi telah tiba, tapi Poirot belum muncul juga. Tetapi kira-kira pukul tiga siang, kami mendengar suara ribut di luar. Ternyata Poirot keluar dari mobil diikuti oleh Japp dan Summerhaye. Laki-laki kecil itu sama sekali berubah. Wajahnya bersinar dengan rasa puas. Dia membungkuk berlebihan di depan Mary Cavendish.
"Nyonya, apakah saya diperbolehkan mengadakan pertemuan di ruang keluarga? Setiap orang perlu hadir di sana."
Mary tersenyum sedih.
"Anda tahu bukan, Tuan Poirot, bahwa kami memberi keleluasaan penuh pada Anda untuk melakukan apa saja?"
"Anda sangat baik, Nyonya."
Dengan wajah masih berseri, Poirot menggiring kami masuk ke ruang keluarga, sambil mengatur kursi untuk kami.
"Nona Howard—di sini. Nona Cynthia. Tuan Lawrence. Dorcas. Dan Annie. Bien. Kita harus menunda acara sebentar untuk menunggu Tuan Inglethorp. Saya sudah mengirim surat agar dia datang."
Nona Howard segera berdiri dari kursinya. "Kalau orang itu masuk rumah ini, saya akan keluar!"
"Tidak, tidak!" Poirot mendekati dia dan membujuk dengan suara rendah.
Akhirnya Nona Howard kembali ke kursinya. Beberapa menit kemudian Alfred Inglethorp masuk. Setelah semua berkumpul, Poirot berdiri dari kursinya dengan sikap seorang penceramah populer. Dia membungkuk dengan sopan kepada para pendengarnya.
"Messieurs, Mesdames, seperti Anda ketahui, saya datang ke rumah ini karena diminta oleh Tuan John Cavendish untuk menyelidiki kejadian tragis ini. Yang pertama-tama saya lakukan adalah memeriksa kamar Almarhumah yang terkunci rapat dan dalam keadaan sama seperti ketika tragedi itu terjadi. Saya menemukan: satu, sepotong kain berwarna hijau. Dua, bekas kotoran di karpet dekat jendela. Tiga, sebuah dos kosong bekas bubuk bromide"
"Kita bicarakan potongan kain hijau dulu. Saya menemukannya tersangkut di gerendel pintu yang menghubungkan kamar Almarhumah dengan kamar Nona Cynthia. Saya menyerahkan potongan tersebut pada polisi tapi mereka tidak menganggap itu penting. Rupanya mereka juga tidak tahu asal potongan tersebut, yang sebenarnya adalah sobekan ban lengan dari baju kerja."
Terdengar gumam para pendengar.
"Hanya ada satu orang yang bekerja di pertanian ini—yaitu Nyonya Cavendish. Karena itu pasti Nyonya Cavendish yang masuk ke dalam kamar Almarhumah melalui pintu penghubung tersebut."
"Tapi pintu itu digerendel dari dalam!" seru saya.
"Ketika saya memeriksa kamar tersebut, memang begitu. Tapi sebelumnya kita hanya percaya pada perkataannya saja, karena dialah yang mencoba membuka pintu itu dan mengatakannya terkunci. Pada waktu semuanya kalang-kabut dia pasti punya kesempatan untuk menggerendelnya diam-diam. Karena itu saya mencocokkan bukti yang saya dapat. Ternyata potongan kain itu sama dengan sobekan yang terdapat pada ban lengan baju kerja Nyonya Cavendish. Di dalam pemeriksaan, Nyonya Cavendish juga mengatakan bahwa dia mendengar suara meja jatuh dari kamarnya. Saya membuktikan pernyataan tersebut dengan menempatkan kawan saya, Tuan Hastings, di depan kamar Nyonya Cavendish. Saya sendiri berada di dalam kamar Almarhumah dengan beberapa polisi dan dengan sengaja menjatuhkan daun meja yang lepas itu. Seperti telah saya duga, ternyata Tuan Hastings tidak mendengar apa-apa. Ini menambah keyakinan saya, bahwa Nyonya Cavendish tidak mengatakan yang sebenarnya paaa waktu pemeriksaan. Sebaliknya saya yakin, bahwa Nyonya Cavendish tidak berada di kamarnya sendiri tetapi di kamar Almarhumah ketika bel
berbunyi."
Saya melirik Mary. Dia pucat, tetapi tersenyum. "Saya terus bekerja berdasarkan asumsi tersebut. Nyonya Cavendish berada di dalam kamar ibu mertuanya. Anggap saja dia mencari sesuatu yang belum ditemukannya. Tiba-tiba Nyonya Inglethorp terbangun karena kesakitan. Tangannya yang terentang akan menarik bel menyentuh daun meja yang goyang. Lilin Nyonya Cavendish terlempar jatuh karena dia terkejut. Tetesan lilin mengotori karpet. Nyonya Cavendish cepat-cepat mengambil lilinnya lalu masuk ke kamar Nona Cynthia. Dia cepat-cepat ke koridor agar pembantu jangan sampai melihatnya berada di tempat itu. Tapi ternyata dia terlambat! Dia mendengar langkah-langkah kaki yang melewati gang menuju ke kamar Almarhumah. Apa yang dilakukannya? Secepat kilat dia kembali lagi ke kamar gadis itu dan menggoyang – goyangkan badannya agar bangun. Orang-orang lainnya terlalu sibuk mencoba membuka pintu kamar Nyonya Inglethorp, sehingga tidak berpikir mengapa Nyonya Cavendish tidak datang bersama-sama dengan mereka. Hal ini menjadi lebih jelas lagi ketika saya tanyakan, karena ternyata tak seorang pun yang melihatnya datang dari sayap rumah yang berlawanan. Apakah benar demikian, Nyonya?"
Mary Cavendish menganggukkan kepalanya. "Benar sekali yang Anda katakan, Tuan. Kalau seandainya dengan menceritakan hal itu saya bisa membebaskan suami saya, maka saya pasti sudah menceritakannya dari kemarin. Tetapi kelihatannya hal itu tidak memberi pengaruh apa-apa terhadap pembebasannya."
"Anda benar, Nyonya. Tetapi dengan mengakui kebenaran fakta tersebut, setidaknya akan membantu saya menentukan sikap, karena apabila saya tahu bahwa asumsi saya benar, saya bisa melihat fakta-fakta lain dengan lebih jelas."
"Surat wasiat!" seru Lawrence. "Kalau begitu kau yang memusnahkan surat itu, Mary?"
Mary menggelengkan kepala. Juga Poirot.
"Bukan," kata Poirot tenang. "Hanya ada satu orang yang punya kemungkinan memusnahkan wasiat itu—Nyonya Inglethorp sendiri."
"Tidak mungkin!" seru saya. "Dia baru saja membuatnya sore itu!"
"Tetapi memang dialah yang melakukannya. Karena, tak ada alasan lain lagi untuk menjelaskan mengapa pada hari yang sangat panas itu Nyonya Inglethorp justru menyuruh pelayannya menyalakan api di kamarnya."
Saya tersentak. Alangkah tololnya saya. Tak pernah terpikir sama sekali hal itu. Poirot melanjutkan, "Temperatur pada hari itu adalah 80° F. Tapi Nyonya Inglethorp minta agar api di kamarnya dinyalakan! Mengapa? Karena dia ingin memusnahkan sesuatu dan tak terpikir olehnya cara lain kecuali membakarnya. Anda semua tentunya masih ingat, bahwa pada saat sulit seperti ini, penghematan sangat digalakkan dan memang dipraktekkan di Styles. Tak selembar kertas bekas pun terbuang. Karena itu tak ada yang bisa dilakukan untuk memusnahkan kertas tebal seperti formulir surat wasiat kecuali dengan membakarnya. Pertama kali saya mendengar bahwa Nyonya Inglethorp minta agar api dinyalakan, saya segera menyimpulkan bahwa dia ingin memusnahkan suatu dokumen berharga—mungkin sebuah surat wasiat. Jadi saya tidak terlalu heran ketika menemukan sepotong kertas bekas terbakar. Tentu saja pada saat itu saya belum tahu bahwa surat wasiat itu baru saja dibuat sorenya. Dan saya akui, bahwa ketika saya tahu fakta tersebut, saya membuat kesalahan. Saya menyimpulkan bahwa keputusan Nyonya Inglethorp untuk memusnahkan surat wasiat itu disebabkan oleh pertengkarannya pada sore itu dan bahwa pertengkaran itu terjadi setelah dan bukan sebelum dia membuat surat wasiat"
"Di sini saya keliru dan saya terpaksa melepaskan ide tersebut. Saya menghadapi persoalan itu dari sudut yang lain. Pada jam 4, Dorcas mendengar Nyonya Inglethorp berkata, 'Jangan dikira bahwa publisitas skandal suami-istri akan membuatku mundur.' Saya menebak, dan ternyata benar, bahwa kata-kata tersebut tidak ditujukan pada suaminya tetapi pada Tuan John Cavendish. Satu jam kemudian, pada jam 5 sore, Nyonya Inglethorp mengulangi kata-kata yang hampir sama, tapi dengan tujuan berbeda. Dia mengatakan pada Dorcas, 'Aku tak tahu harus berbuat apa. Skandal antara suami-istri benar-benar mengerikan.' Pada jam 4 dia marah, karena persoalan orang lain. Tapi pada jam 5 dia marah dan dalam keadaan tertekan dan sedih. Dari sudut psikologi, saya membuat suatu deduksi yang saya rasa benar. Skandal kedua yang dia katakan tidaklah sama dengan yang pertama, karena yang kedua menyangkut dirinya sendiri!"
"Mari kita rekonstruksi. Pada jam 4, Nyonya Inglethorp bertengkar dengan anaknya dan mengancam untuk memberi tahu istrinya yang kebetulan mendengar sebagian besar percakapan itu. Pada jam 4.30, sebagai akibat percakapan tersebut, Nyonya Inglethorp membuat sebuah surat wasiat baru yang mewariskan hartanya kepada suaminya. Surat wasiat itu ditandatangani kedua tukang kebun sebagai saksi. Pada jam 5, Dorcas melihat nyonyanya sedang gelisah memegang selembar kertas katakanlah 'surat'. Pada saat itulah Nyonya Inglethorp memerintahkan Dorcas menyalakan api. Jadi, antara jam 4.30 dan jam 5, ada sesuatu yang telah terjadi yang menyebabkan perubahan total seluruh perasaannya, karena pada saat itu dia berkeinginan untuk mengubah surat wasiat tersebut. Apakah sebenarnya yang terjadi?"
"Setahu kita, Nyonya Inglethorp sendirian di kamar kerjanya pada waktu tersebut. Tak ada seseorang yang masuk atau keluar ruangannya. Jadi ada apa? Kita hanya bisa menebak. Tapi saya merasa bahwa tebakan saya benar. Nyonya Inglethorp tidak punya perangko di mejanya. Kita tahu hal ini, karena kemudian dia menyuruh Dorcas untuk membelinya. Di sudut lain, dalam ruangan itu ada meja suaminya—yang terkunci. Nyonya Inglethorp memerlukan perangko. Bayangan saya, dia mencoba membuka meja suaminya dengan kuncinya. Ternyata bisa. Kemudian dia mencari-cari perangko di dalamnya. Tetapi ternyata dia menemukan sesuatu yang lain—yaitu selembar kertas yang dilihat Dorcas digenggam nyonyanya, kertas yang isinya tidak diperuntukkan bagi Nyonya Inglethorp. Sebaliknya, Nyonya Cavendish menganggap bahwa kertas yang digenggam ibu mertuanya itu merupakan bukti tertulis dari ketidaksetiaan suaminya. Dia meminta kertas itu dari Nyonya Inglethorp, tapi Nyonya Inglethorp meyakinkannya bahwa surat itu tak ada hubungannya dengan persoalan Nyonya Cavendish. Nyonya Cavendish tidak percaya. Dia mengira bahwa Nyonya Inglethorp berusaha melindungi anaknya."
"Nyonya Cavendish adalah seorang yang berpendirian keras. Di balik sikapnya yang pendiam, dia sangat cemburu pada suaminya. Dia memutuskan untuk mendapatkan kertas tersebut dengan cara apa pun. Kesempatan baik rupanya datang. Dia kebetulan menemukan kunci tas Nyonya Inglethorp yang hilang, dan dia tahu bahwa Ibu mertuanya itu menyimpan semua surat-surat penting di tas tersebut. Karena itu, Nyonya Cavendish membuat rencana. Pada suatu malam dia melepas gerendel pintu yang menghubungkan kamar Almarhumah dengan kamar Nona Cynthia. Barangkali dia juga memberi minyak atau pelumas di lubang kunci pintu itu karena ketika saya cek, pintu tersebut dapat terbuka tanpa suara. Dia menangguhkan rencananya sampai pagi, karena dia merasa lebih jaman pada waktu pagi. Para pelayan biasa mendengar dia bangun sekitar jam itu. ' Dia memakai baju kerja ladang, lalu diam-diam menuju kamar Nona Cynthia."
Dia berhenti sejenak. Cynthia menyela, "Tentunya saya akan terbangun kalau ada seseorang masuk ke kamar saya."
"Tidak kalau Anda dibius, Nona."
"Dibius?"
"Mais, out"
"Barangkali Anda semua masih ingat betapa, nyenyak Nona Cynthia tidur, ketika yang lain ribut di dekat kamarnya. Ada dua kemungkinan yang menyebabkannya. Pertama adalah pura-pura—dan saya rasa itu tidak benar—yang kedua adalah dibius."
"Untuk kemungkinan kedua ini, saya membuktikannya dengan memeriksa semua cangkir kopi dengan hati-hati. Nyonya Cavendish-Iah yang membawa cangkir kopi Nona Cynthia pada malam sebelumnya. Saya mengambil contoh sisa kopi dari masing-masing cangkir itu dan menganalisanya—tanpa hasil. Saya juga menghitung semua cangkir. Enam orang dengan enam cangkir kopi. Sudah pas."
"Kemudian saya baru tahu bahwa saya membuat kekeliruan. Sebenarnya ada tujuh
dan bukan enam orang yang minum kopi, karena pada malam itu Dokter Bauerstein datang. Hal ini mengubah segalanya, karena ada sebuah cangkir yang hilang. Para pembantu tidak tahu, karena Annie yang menyiapkan tujuh cangkir tidak tahu bahwa Tuan Inglethorp tidak minum kopi, sedangkan Dorcas yang membersihkan cangkir kopi esok paginya menemukan enam cangkir seperti biasanya—atau tepatnya dia menemukan lima cangkir, sedangkan yang satu hancur berantakan di kamar Nyonya Inglethorp. Saya yakin bahwa cangkir kopi yang hilang itu adalah cangkir Nona Cynthia. Keyakinan saya itu diperkuat oleh satu hal yaitu semua kopi yang ada pada cangkir – cangkir  itu mengandung gula sedangkan Nona Cynthia tidak pernah minum kopi dengan gula. Perhatian saya tertarik pada cerita Annie yang mengatakan bahwa dia melihat sejumput garam di nampan coklat yang selalu dibawanya naik ke kamar Nyonya Inglethorp. Saya mengambil contoh sisa coklat tersebut untuk dianalisa."
"Tapi Dokter Bauerstein kan telah melakukannya," sela Lawrence.
"Dokter Bauerstein memang meminta agar cokiat tersebut dianalisa, tapi dia hanya ingin tahu apakah cairan itu mengandung strychnine atau tidak. Dia tidak minta agar coklat itu dianalisa untuk mengetahui adanya narkotika, misalnya."
"Narkotika?"
"Ya. Ini laporan analisnya. Nyonya Cavendish memberikan narkotika yang tidak berbahaya tapi cukup efektif, kepada Nyonya Inglethorp dan Nona Cynthia. Dan karena itulah dia merasa gelisah. Bayangkan perasaannya ketika tiba-tiba ibu mertuanya sakit dan meninggal. Dia ketakutan karena mengira bahwa perbuatannyalah yang menyebabkannya walaupun dia tahu bahwa obat itu aman. Dia menjadi kacau dan dengan pikiran kalut dia melemparkan cangkir kopi Nona Cynthia ke sebuah vas tembaga besar. Cangkir itu kemudian ditemukan oleh Tuan Lawrence. Nyonya Cavendish tidak berani menyentuh sisa coklat karena akan terlalu banyak mata yang melihatnya. Bayangkan bagaimana dia merasa lega ketika akhirnya dinyatakan bahwa strychnine-lah yang menyebabkan kematian Nyonya Inglethorp, dan bukan perbuatannya."
"Kita sekarang tahu mengapa akibat peracunan strychnine bisa tertunda begitu lama. Karena narkotika yang diberikan bersama strychnine memang bisa menunda reaksinya selama beberapa jam."
Poirot berhenti sejenak, Mary memandangnya. Wajahnya sudah tidak pucat lagi. "Apa yang Anda katakan semuanya benar, Tuan Poirot. Saat itu merupakan saat yang paling menegangkan dalam hidup saya dan saya tak akan melupakannya. Tapi Anda memang luar biasa. Saya mengerti sekarang—"
"Apa yang saya maksud ketika saya mengatakan bahwa Anda bisa mengaku dosa pada Pastor Poirot? Tapi Anda tidak mau mempercayai saya."
"Sekarang saya mengerti," kata Lawrence. "Coklat yang diberi narkotika bercampur dengan kopi beracun akan menunda reaksi."
"Tepat. Tapi apakah kopi itu beracun? Di sini juga terbentur pada suatu kesulitan, karena Nyonya Inglethorp tidak minum kopi itu,"
"Apa?" hampir semuanya berteriak bersama keheranan.
"Benar. Anda ingat saja pernah mengatakan saya menemukan noda bekas kopi di karpet? Ada sesuatu yang khusus pada noda tersebut. Noda itu masih lembab, basah, dan berbau kopi tajam sekali. Di samping menemukan noda tersebut, saya juga menemukan pecahan cangkir. Apa yang telah terjadi tidak terlalu sulit untuk dibayangkan, karena belum ada dua menit setelah saya meletakkan tas kecil saya di meja Nyonya Inglethorp, daun meja tersebut bergoyang dan jatuh bersama tas saya di tempat yang sama dengan tempat saya menemukan pecahan cangkir. Rupanya setelah sampai di kamarnya, Nyonya Inglethorp meletakkan cangkir kopinya di meja yang sama dan cangkir itu jatuh—pecah."
"Apa yang terjadi kemudian adalah dugaan saya saja. Nyonya Inglethorp mengambil pecahan cangkir dan meletakkannya di meja dekat tempat tidurnya. Karena ingin minum sesuatu yang hangat, dia kemudian memanaskan coklat dan meminumnya. Persoalan yang timbul adalah begini. Kita tahu bahwa coklat itu tidak mengandung strychnine, sedangkan kopi itu tidak diminumnya. Padahal strychnine itu pasti diminumnya antara jam tujuh dan jam sembilan malam itu. Jadi medium apa yang bisa menyembunyikan rasa strychnine tapi yang tak pernah kita curigai?" Poirot memandang berkeliling dan menjawabnya sendiri dengan impresif, "Obatnya sendiri!"
"Maksudmu strychnine itu dimasukkan si pembunuh ke dalam toniknya?" seru saya.
"Tidak. Dia tidak perlu melakukan hal itu. Strychnine itu ada di dalam tonik itu sendiri. Strychnine yang membunuh Nyonya Inglethorp adalah sama dengan yang diberikan Dokter Wilkins. Supaya jelas akan saya bacakan paragraf sebuah buku dari Ruang Obat Red Cross Hospital di Tadminster. Resep ini sangat dikenal dalam buku teks,

Strycbninae Sulph       gr.I
Potass Bromide           3vi
Aqua ad                      3viii
Fiat Mistura

Dalam beberapa jam, larutan ini bisa mengendapkan garam strychnine sebagai bromida yang tidak dapat larut dan membentuk kristal transparan. Seorang wanita telah meninggal karena minum campuran yang sama: strychnine yang mengendap di dasar botol. Dengan meminum larutan terakhir, dia meminum hampir seluruh endapan! Sekarang, dalam resep Dokter Wilkins memang tidak ada bromida, tapi barangkali Anda masih ingat bahwa saya pernah menyebutkan satu kotak bubuk bromida yang telah kosong. Satu atau dua butir bubuk apabila dimasukkan ke dalam botol obat Nyonya Inglethorp akan mempunyai efek yang sama, yaitu menyebabkan pengendapan strychnine di dasar botol. Mungkin Anda juga masih ingat bahwa orang yang menuang obat Nyonya Inglethorp harus sangat berhati-hati agar botolnya tidak terguncang."
"Dalam kasus ini, sudah direncanakan bahwa tragedi itu akan terjadi pada hari Senin. Pada hari itu kabel bel Nyonya Inglethorp telah dipotong dengan hati-hati, dan pada malam itu Nona Cynthia tidur di rumah kawannya, sehingga Nyonya Inglethorp benar-benar berada di sayap kanan sendirian—tanpa alat komunikasi. Dengan demikian tak akan ada bantuan apa pun apabila dia memerlukannya. Akan tetapi, karena tergesa-gesa pergi ke sebuah acara, Nyonya Inglethorp lupa minum obatnya. Besok siangnya dia makan siang di rumah kawannya. Jadi akhirnya dosis terakhir yang fatal itu diminum 24 jam lebih lama dari yang direncanakan oleh si pembunuh. Tetapi karena penundaan itulah mata rantai terakhir dari peristiwa ini—sekarang berada dalam genggaman saya."
Di tengah tarikan napas para pendengar, Poirot mengeluarkan tiga lembar kertas. "Sebuah surat yang ditulis oleh pembunuh itu sendiri, Seandainya isi surat ini lebih jelas, Nyonya Inglethorp pasti terhindar dari bahaya."
Dalam keheningan, Poirot menyambung ketiga sobekan surat dan sambil berdehem dia membaca, " 'Evelyn tersayang, Kau pasti ingin tahu apa yang terjadi. Semuanya beres. Hanya saja rencana itu akan terjadi malam ini, bukannya kemarin. Kau pasti mengerti. Apabila si Tua itu sudah meninggal semuanya akan menyenangkan. Tak seorang pun akan bisa menudingkan jari padaku. Idemu tentang bromida itu memang hebat! Tapi kita harus sangat berhati-hati. Satu langkah keliru—' Surat itu terhenti di situ. Pasti si penulis merasa terganggu. Tapi identitasnya sangat jelas. Kita semua tahu tulisan tangannya dan—"
Sebuah geraman seperti suara halilintar memecah kesunyian. "Setan! Dari mana kau dapat itu?"
Sebuah kursi terbalik. Poirot mengelak ke samping dengan cepat dan si penyerang roboh ke lantai.
"Messieurs, Mesdames, saya perkenalkan Anda pada si pembunuh, Tuan Alfred Inglethorp!"

Lanjut ke BAB TIGA BELAS

Monday, 2 November 2015

Agatha Christie - Misteri di Styles - BAB SEBELAS

BAB SEBELAS
SEBUAH KASUS UNTUK DISIDANGKAN



Persidangan John Cavendish dengan tuduhan membunuh ibu tirinya dilakukan dua bulan kemudian. Pada minggu-minggu antara saat John ditahan dan sidang dimulai tak banyak yang akan saya ceritakan. Rasa simpati dan kagum saya pada Mary Cavendish semakin besar. Dia berjuang mati-matian membela suaminya. Saya ceritakan hal itu pada Poirot, dan dia mengangguk sambil termenung.
"Ya. Dia salah seorang wanita yang baru kelihatan kebaikannya dalam situasi sulit. Dengan begitu kita tahu, bahwa dia benar-benar mencintainya dengan tulus. Rasa angkuh dan cemburunya—"
"Cemburu?" tanya saya.
"Ya. Kau tidak melihatnya sebagai seorang wanita yang mempunyai rasa cemburu yang besar? Rasa angkuh dan cemburunya telah dikesampingkan. Dia hanya memikirkan suaminya saja dan nasib buruk yang membayanginya."
Poirot berkata dengan penuh perasaan. Saya memandangnya penuh perhatian sambil mengingatkan apa yang dikatakannya siang ituapakah sebaiknya dia berkata atau tidak. Dengan pertimbangan demi "kebahagiaan seorang wanita", saya ikut senang bahwa keputusan itu pada akhirnya tidak lagi membebani pikirannya."Sampai sekarang pun aku belum bisa percaya karena aku membayangkan Lawrence, dan bukannya John."
Poirot menyeringai. "Aku tahu."
"Tapi—ah, John! Temanku, John!"
"Setiap pembunuh barangkali juga teman baik seseorang," kata Poirot berfilsafat. "Kau tidak bisa mencampur sentimen dengan akal sehat."
"Setidaknya kau bisa memberiku petunjuk."
"Mungkin bisa, mon ami, tapi aku tidak melakukannya karena dia adalah teman baikmu"
Saya agak malu mendengar hal itu, karena teringat bahwa saya mengatakan pada John pendapat Poirot tentang Dr. Bauerstein yang ternyata keliru itu. Dr. Bauerstein memang akhirnya dibebaskan dari tuduhan itu karena kecerdikannya. Namun demikian, dia tak dapat lagi melakukan pekerjaan mata-matanya. Saya bertanya pada Poirot apakah John akan kena hukuman. Tapi Poirot menjawab bahwa dia akan bebas. Saya menjadi bingung.
"Tapi—" saya memprotes.
"Bukankah telah kukatakan bahwa aku tak punya bukti. Mengetahui bahwa seseorang bersalah tidak sama dengan mampu membuktikan bahwa dia bersalah. Dan dalam kasus ini, bukti itu bisa dikatakan tidak ada. Itulah persoalannya. Aku, Hercule Poirot, tahu, tapi aku kehilangan mata rantai terakhir. Kalau aku tak bisa menemukannya—" Dia menggelengkan kepala dengan sedih.
"Kapan kau mulai mencurigai John Cavendish?" tanya saya.
"Apa kau sama sekali tidak mencurigainya?"
'Tentu saja tidak."
"Juga setelah mendengar potongan pembicaraan antara Nyonya Cavendish dengan ibu mertuanya dan sikap tidak terus terangnya dalam pemeriksaan?"
'Tidak."
"Apa kau tidak mencoba menarik kesimpulan berdasarkan fakta-fakta dan membayangkan bahwa bila bukan Alfred Inglethorp yang bertengkar dengan istrinya—dan ingat bahwa Alfred menolak tuduhan itu mentah-mentah dalam pemeriksaan— jadi kalau bukan Lawrence pasti John. Seandainya yang bertengkar dengan Nyonya Inglethorp adalah Lawrence, maka sikap Mary itu tidak masuk akal. Tetapi bila John, semuanya menjadi wajar."
"Jadi yang bertengkar dengan Nyonya Inglethorp adalah John?"
"Benar."
"Dan kau telah lama tahu hal itu?"
"Ya. Sikap Nyonya Cavendish hanya bisa diterima bila kejadiannya demikian."
"Tapi kau mengatakan bahwa dia punya kemungkinan dibebaskan?"
Poirot mengangkat bahunya. "Tentu saja. Dalam pemeriksaan pendahuluan nanti akan kita dengar tuduhannya, tapi aku rasa pengacaranya akan memberi tahu agar dia lebih banyak diam. Dan baru membela diri dalam persidangan. Dan—o ya, aku akan memberi tahu bahwa aku tak akan datang pada sidang itu."
"Kenapa?"
"Karena secara resmi tak ada hubungannya. Aku tak akan tampil sebelum kutemukan mata rantai terakhir. Nyonya Cavendish harus merasa bahwa aku bekerja membela kepentingan suaminya, bukan sebaliknya."
"Ah, aku rasa kau tak perlu bersikap begitu," protes saya.
"Kita sedang berhadapan dengan seorang pembunuh yang cerdik dan licin. Karena itu kita harus menggunakan kekuatan yang kita miliki agar dia tidak lepas dari genggaman. Karena itu pula aku sangat hati-hati dan tak mau terlalu menonjolkan diri. Semua penemuan dilakukan oleh Japp dan Japp-lah yang akan mendapat pujian. Seandainya aku dipanggil untuk memberi kesaksian," katanya sambil tersenyum lebar— "maka aku akan bertindak sebagai saksi untuk kepentingan terdakwa."
Saya sama sekali tak bisa mempercayai pendengaran saya. "Memang agak en regie," sambungnya, "tapi aku memang punya satu bukti yang bisa melumpuhkan penahanan itu."
"Yang mana?"
"Yang berhubungan dengan dihancurkannya sebuah surat wasiat itu." Poirot memang nabi. Saya tak akan bercerita panjang-lebar tentang pemeriksaan pendahuluan polisi. John Cavendish memang lebih banyak diam dan karena itu dia disidangkan. Pada bulan September kami pindah ke London. Mary tinggal di sebuah rumah di Kensington dan Poirot pun dianggap sebagai anggota keluarga. Saya sendiri bekerja di Kantor Perang, jadi bisa menengok mereka setiap saat.
Minggu demi minggu berlalu. Kegelisahan Poirot semakin mencemaskan. Mata rantai
terakhir itu masih belum ditemukannya. Secara pribadi saya berharap agar situasi itu tetap demikian, karena saya tahu bahwa Mary tak akan bahagia bila John dibebaskan.
Pada tanggal 15 September John Cavendish disidang dengan tuduhan 'Pembunuhan yang direncanakan terhadap Emily Agnes Inglethorp', dan menolak tuduhan tersebut. Sir Ernest Heavywether yang terkenal itu menjadi pembelanya.  Tuan Philips yang membuka sidang. Dia mengatakan pembunuhan itu direncanakan dan merupakan pembunuhan sadis yang dilakukan oleh seorang anak tiri terhadap ibu tirinya yang menyayanginya. Sejak kecil tertuduh diasuh seperti anaknya sendiri. Dia dan istrinya tinggal bersama korban di Styles Court dengan segala kemewahan dan perhatian yang dilimpahkan ibu tirinya.
Penuntut menyarankan untuk memanggil saksi yang bisa menunjukkan betapa boros cara hidup tertuduh, dan menunjukkan bahwa tertuduh sedang berada dalam kesulitan keuangan yang serius. Penuntut juga menyatakan bahwa tertuduh telah melakukan hubungan gelap dengan Nyonya Raikes, istri seorang petani. Hal ini didengar oleh ibu tirinya dan keduanya bertengkar seru pada sore hari sebelum tragedi itu terjadi. Pada hari sebelumnya, tertuduh membeli strychnine di toko obat desa dengan menyamar sebagai orang lain, yaitu sebagai suami Nyonya Inglethorp. Untunglah Tuan Inglethorp mempunyai alibi untuk membela dirinya.
Pada sore tanggal 17 Juli, setelah bertengkar dengan anak tirinya, Nyonya Inglethorp membuat surat wasiat baru. Surat wasiat itu ditemukan terbakar di perapian kamarnya keesokan paginya. Surat wasiat tersebut menyatakan pewarisan harta untuk suaminya cukup bukti untuk itu. Korban telah membuat surat wasiat yang menguntungkan suaminya sebelum pernikahan, tapi tertuduh tidak mengetahui hal itu. Apa yang menyebabkan korban membuat surat wasiat baru padahal yang lama masih ada, dia sama sekali tidak tahu. Ada kemungkinan korban lupa karena sudah tua. Atau—yang lebih mungkin—korban menyangka bahwa surat wasiat itu batal karena perkawinannya. Sebab itu dia perlu membuat surat wasiat yang sama. Padahal tahun sebelumnya korban membuat surat wasiat yang menguntungkan tertuduh. Biasanya wanita tidaklah terlalu mengerti persoalan-persoalan demikian.
Penuntut juga akan mengajukan saksi untuk membuktikan bahwa tertuduhlah yang memberikan kopi pada korban pada malam naas itu. Pada malam harinya tertuduh berusaha masuk ke kamar korban untuk mencari kesempatan memusnahkan surat wasiat baru tersebut
sehingga surat wasiat yang berlaku adalah yang menguntungkan dirinya. Tertuduh ditahan karena Detektif Inspektur Japp yang brilyan itu menemukan botol strychnine yang dijual toko obat kepada Tuan Inglethorp di kamarnya. Juri akan memutuskan apakah fakta-fakta yang dikemukakan cukup membuktikan kesalahan tertuduh.
Sambil meyakinkan juri, Tuan Philips duduk dan menyapu keringat di dahinya. Saksi-saksi yang dipanggil kebanyakan adalah mereka yang pernah menjadi saksi pada waktu pemeriksaan. Pembuktikan secara medis pun diulangi lagi. Sir Ernest Heavywether yang amat terkenal dengan sikapnya yang blak-blakan itu hanya menanyakan dua pertanyaan.
"Benarkah, Dokter Bauerstein, bahwa strychnine cair itu bereaksi dengan cepat?"
"Ya."
"Dan bahwa Anda tidak bisa memastikan apa yang memperlambat reaksi itu dalam
kasus ini?"
"Ya."
"Terima kasih."
Tuan Mace mengenali botol strychnine yang pernah dijualnya pada 'Tuan Inglethorp.' Setelah didesak, dia mengaku bahwa dia hanya tahu Tuan Inglethorp sepintas saja. Dia belum pernah bicara dengannya. Saksi ini tak ditanyai pembela. Alfred Inglethorp dipanggil dan menolak tuduhan bahwa dia pernah membeli strychnine. Dia juga tidak merasa pernah bertengkar dengan istrinya. Beberapa saksi membenarkan pernyataannya. Kedua tukang kebun dan Dorcas dipanggil. Dorcas yang setia pada 'tuan muda'nya membela mati-matian dan mengatakan bahwa yang didengarnya bukan suara John dan dia menyatakan bahwa Tuan Inglethorplah yang sore itu bersama nyonyanya di ruang kerja Nyonya Inglethorp. John tersenyum saja mendengar pembelaan yang tak membantu itu. Nyonya Cavendish tentu saja
tidak bisa dipanggil untuk menjadi saksi bagi suaminya. Setelah melewati beberapa pertanyaan, Tuan Philips bertanya, "Pada bulan Juni yang lalu, apa kau menerima paket untuk Tuan Lawrence Cavendish dari Parkson?"
Dorcas menggelengkan kepala. "Saya tidak ingat, Tuan. Barangkali ada. Tapi Tuan Lawrence bepergian pada bulan itu."
"Seandainya ada paket datang untuknya ketika dia tidak di rumah, apa yang akan dilakukan?"
"Bisa disimpan dalam kamarnya atau dikirim ke tempat Tuan Muda berada."
"Kau yang melakukannya?"
"Bukan, Tuan. Saya hanya meletakkannya di meja. Nona Howard-lah yang mengurus hal-hal semacam itu."
Evelyn Howard dipanggil. Setelah ditanyai tentang hal-hal lain, akhirnya pertanyaan sampai pada soal paket. "Tak ingat. Banyak paket. Tak ingat yang mana untuk siapa."
"Anda tidak tahu apakah paket itu dikirim ke Tuan Cavendish di Wales atau diletakkan di kamarnya?"
"Rasanya tak dikirim. Pasti saya ingat kalau dikirim."
"Seandainya ada paket untuk Tuan Lawrence Cavendish dan paket itu lenyap, apa Anda tahu atau ingat?"
"Tidak. Saya pasti mengira ada orang yang telah mengambilnya."
"Nona Howard, Andakah yang menemukan lembar kertas coklat ini?" katanya sambil menunjukkan kertas lusuh yang pernah kami lihat.
"Ya, benar."
"Mengapa Anda mencarinya?"
"Detektif Belgia yang diminta membantu, menyuruh saya mencari kertas itu." "Di mana Anda temukan kertas itu?"
"Di atas—di atas lemari baju."
"Di atas lemari baju terdakwa?"
"Saya—rasa begitu."
"Apa Anda sendiri yang menemukannya?"
"Ya."
"Kalau begitu Anda tahu di mana Anda menemukannya?"
"Ya. Di atas lemari baju terdakwa."
"Nah, begitu."
Seorang .pegawai Perusahaan Kostum Teater Parkson memberi kesaksian bahwa pada tanggal 29 Juni mereka mengirimkan jenggot hitam pada Tuan L. Cavendish, sesuai permintaannya. Pesanan itu lewat surat. Sayang mereka tidak menyimpan surat tersebut, karena semua transaksi dicatat dalam buku. Mereka mengirim jenggot itu kepada 'L. Cavendish, Esq., Styles Court'. Sir Ernest Heavywether bangkit dengan berat. "Dari mana surat itu dikirim?"
"Dari Styles Court."
"Alamat yang sama dengan tempat Anda mengirim paket itu?"
"Ya."
"Dan surat itu dari sana?"
"Ya."
Seperti seekor binatang buas mengejar mangsanya, Heavy wether mengejar saksi. "Bagaimana Anda tahu?"
"Saya—saya tidak mengerti."
"Bagaimana Anda tahu surat itu dari Styles? Anda memperhatikan cap posnya?"
"Tidak—tapi—"
"Ah, Anda tidak memperhatikan cap posnya! Tapi Anda begitu yakin bahwa surat itu dari Styles. Padahal bisa saja cap posnya lain, kan?"
"Y-a."
"Dengan demikian surat yang dikirim itu bisa saja datang dari tempat lain. Misalnya Wales."
Saksi mengaku bahwa hal itu mungkin saja terjadi dan Sir Ernest menyatakan bahwa dia puas. Elizabeth Wells, seorang pelayan di Styles memberikan kesaksian. Dia mengatakan
bahwa sebelum tidur dia ingat telah menggerendel pintu depan, padahal Tuan Inglethorp telah berpesan agar tidak digerendeli karena itu dia turun lagi. Ketika mendengar suara di sayap barat, dia mengintip dan melihat Tuan John Cavendish mengetuk pintu kamar Nyonya Inglethorp. Sir Ernest Heavywether menangani hal itu sebentar saja. Akhirnya pelayan tersebut mundur dengan sikap tak berdaya dan Sir Ernest duduk kembali dengan senyum puas. Dengan kesaksian Annie tentang tetesan lilin di karpet dan kesaksiannya bahwa dia
melihat tertuduh membawa kopi ke ruang kerja Nyonya Inglethorp, sidang dihentikan dan dilanjutkan keesokan paginya.
Dalam perjalanan pulang, Mary mengomeli jaksa penuntut. "Orang itu keterlaluan. Dia memasang perangkap untuk John! Dia memutarbalikkan fakta!"
"Ah, tunggu saja besok. Situasi pasti akan berbalik," hibur saya.
"Ya," katanya sambil merenung, tiba-tiba dia berbisik, "Tuan Hastings, menurut Anda—ah, pasti bukan Lawreoice—Ah, tak mungkin!"
Tapi saya sendiri juga bingung, begitu tak ada orang kecuali Poirot, saya langsung minta pendapatnya tentang Sir Ernest—apa yang dimauinya.
"Dia memang pandai," jawab Poirot.
"Apa dia yakin bahwa Lawrence yang bersalah?"
"Aku rasa dia tidak percaya dan tidak peduli apa-apa! Yang dilakukannya hanyalah menimbulkan kekacauan pada pikiran para juri sehingga pendapat mereka berbeda. Dia berusaha menyatakan bahwa bukti-bukti untuk memberatkan John maupun Lawrence sama banyaknya—dan aku yakin dia akan berhasil."
Saksi pertama yang dipanggil keesokan paginya adalah Detektif Inspektur Japp. Dia memberikan kesaksian yang singkat. Setelah sedikit menyinggung kejadian-kejadian sebelumnya, dia melanjutkan, "Berdasarkan informasi yang kami terima, Inspektur Polisi Summerhaye dan saya memeriksa kamar tertuduh pada waktu dia tidak ada. Pada laci bajunya, tersembunyi dalam tumpukan baju dalam, kami menemukan: satu kaca mata bulat berbingkai emas seperti milik Tuan Inglethorp, dan botol ini," katanya sambil menunjukkan kedua benda tadi.
Botol kecil yang dikenali oleh pembantu toko obat itu berwarna biru dan mengandung bubuk putih. Diluarnya terdapat label bertuliskan, "strychnine hydro-chloride. RACUN." Sebuah benda baru yang ditemukan oleh para polisi adalah kertas pengering tinta yang panjang. Benda itu ditemukan di buku cek Nyonya Inglethorp. Setelah dihadapkan di depan kaca, terbaca tulisan berikut, "... semua yang kumiliki setelah meninggal akan menjadi hak suamiku tercinta, Alfred Ing...." Kata-kata tersebut dianggap merupakan isi surat wasiat yang dimusnahkan. Japp kemudian mengeluarkan kepingan kertas dari perapian yang ditemukan Poirot. Dengan jenggot yang ditemukan di gudang atas, sempurnalah bukti-bukti yang mereka dapat. Tapi pemeriksaan Sir Ernest belumlah dimulai. "Kapan Anda memeriksa kamar terdakwa?"
"Selasa, 24 Juli."
"Tepat satu minggu setelah tragedi?"
"Ya."
"Anda menemukan kedua benda itu di laci baju. Apa laci tersebut terkunci?"
"Tidak."
"Apakah menurut Anda tidak aneh kalau setelah seseorang melakukan pembunuhan lalu dia menyimpan bukti-bukti dalam sebuah laci yang tak terkunci?"
"Dia mungkin menyimpannya di situ karena tergesa-gesa."
"Tapi Anda baru saja mengatakan bahwa pemeriksaan itu dilakukan satu minggu setelah kematian. Pembunuh pasti punya cukup banyak waktu untuk mengeluarkan dan memusnahkannya"
"Barangkali."
"Tak ada barangkali tentang hal ini. Apakah dia punya cukup waktu atau tidak untuk memusnahkannya?"
"Ya."
"Apakah tumpukan baju tempat dia menyembunyikan benda-benda itu berat atau
ringan?"
"Agak berat."
"Dengan kata lain, tumpukan baju tersebut merupakan tumpukan baju musim dingin. Jelas bahwa tertuduh tidak akan sering membuka laci tersebut dalam cuaca seperti ini."
"Barangkali tidak."
"Harap Saudara menjawab dengan tegas. Mungkinkah terdakwa membuka-buka laci baju dalam untuk musim dingin dalam cuaca panas seperti ini? Ya atau tidak?"
"Tidak."
"Kalau begitu, apakah mungkin seseorang lain meletakkan kedua benda tadi di tempat yang sama tanpa diketahui tertuduh?"
"Rasanya tidak demikian."
"Tetapi mungkin?"
"Ya."
"Baik. Itu saja."
Lebih banyak bukti menyusul. Kesaksian bahwa tertuduh dalam kesulitan uang pada akhir Juli. Bukti bahwa tertuduh berhubungan gelap dengan Nyonya Raikes. Kasihan Mary, pasti pedih rasanya mendengar suaminya ada main dengan wanita lain. Evelyn Howard rupanya mempunyai fakta yang benar walaupun kesimpulannya salah. Dia menyangka bahwa Alfred Inglethorp-lah yang berhubungan dengan Nyonya Raikes. Lawrence Cavendish kemudian dipanggil. Dengan suara rendah dia menjawab pertanyaan jaksa bahwa dia tidak memesan apa-apa dari Parkson pada bulan Juni. Dia bahkan ada di Wales pada tanggal 29 Juni. Dagu Sir Ernest Heavy wether segera terangkat.
"Anda menolak kenyataan bahwa anda telah memesan sebuah jenggot hitam dari Parkson pada tanggal 29 Juni?"
"Ya."
"Ah! Seandainya ada sesuatu yang menimpa kakak Anda, siapa yang akan menerima warisan Styles Court?"
Kekasaran pertanyaan itu membuat wajah pucat Lawrence berubah jadi merah. Jaksa
memperdengarkan gumaman tidak setuju dan terdakwa membungkuk ke depan dengan marah. Tetapi Heavywether tidak peduli dengan kemarahan kliennya.
"Harap jawab pertanyaan saya!"
"Saya rasa, sayalah yang akan mewarisinya," kata Lawrence pelahan.
"Apa maksud Anda dengan, 'saya rasa'? Kakak Anda tidak punya anak. Jadi Andalah yang pasti akan menerimanya. Begitu, bukan?"
"Ya."
"Nah, begitu," kata Heavywether dengan kejam. "Dan Anda juga akan mewarisi uang,
bukan?"
"Sir Ernest, pertanyaan tersebut kurang relevan," kata jaksa menyela.
Sir Ernest hanya mengangguk. Setelah melemparkan anak panahnya, dia melanjutkan, "Pada hari Selasa tanggal 17 Juli, Anda dengan beberapa teman mendatangi ruang obat Red Cross Hospital di Tadminster?"
"Ya."
"Apakah Anda—pada saat sendirian—membuka lemari racun dan memeriksa botol – botol di situ?"
"Barangkali."
"Saya bertanya, apa Anda melakukannya?"
"Ya."
Sir Ernest kemudian menembakkan pertanyaan berikut, "Apa Anda memeriksa sebuah botol khusus?"
'Saya rasa tidak."
"Hati-hati, Tuan Cavendish. Pertanyaan saya menunjuk pada botol kecil berisi hydrochloride strychnine."
Wajah Lawrence menjadi pasi kehijauan. "S-aya kira tidak."
"Jadi bagaimana saya harus menunjukkan fakta bahwa sidik jari Anda menempel di botol ini?"
Gertakan Sir Ernest semakin menjadi-jadi menghadapi saksi yang gelisah. "Kalau—kalau begitu tentunya saya telah memegang botol itu."
"Saya rasa begitu! Apa Anda mengambil isi botol ini?"
"Tentu saja tidak."
"Kalau begitu kenapa Anda memegang botol ini?"
"Saya pernah mempelajari ilmu kedokteran. Hal-hal semacam itu tentunya menarik perhatian saya."
"Jadi racun merupakan hal yang dengan sendirinya menarik perhatian Anda? Tapi mengapa Anda perlu waktu sendirian untuk memuaskan rasa ingin tahu Anda yang wajar itu?"
"Itu hanya merupakan suatu kebetulan saja. Seandainya orang-orang lain ada di sana, saya akan tetap melakukannya."
"Ya. Tapi yang telah terjadi—tak ada siapa pun di sana, bukan?"
"Tetapi—"
"Kenyataannya, selama Anda ada di ruang itu hanya ada waktu beberapa menit bagi Anda untuk sendirian—dan yang terjadi—saya ulangi—yang terjadi—justru pada waktu itulah Anda memuaskan 'rasa ingin tahu yang wajar' atas hydrochloride strychnine?"
Lawrence tergagap dengan memelas, "Saya—saya—"
Dengan nada puas Sir Ernest berkata, "Itu saja pertanyaan saya untuk Anda, Tuan Cavendish."
Pemeriksaan itu membuat ruang pengadilan menjadi ribut. Kepala-kepala wanita yang hadir dengan busana modern saling menempel dan bisikan mereka bertambah lama bertambah keras, sehingga hakim mengancam akan menghentikan sidang bila mereka tidak segera diam. Sebuah pembuktian dilakukan. Ahli-ahli tulisan tangan dipanggil untuk mengidentifikasi tanda tangan Tuan 'Alfred Ingiethorp' yang ada di daftar toko obat. Mereka semua mengatakan bahwa tulisan itu bukan tulisan tangan asli Tuan Inglethorp dan ada kemungkinan tulisan tersebut adalah tulisan palsu terdakwa. Setelah diperiksa lagi pernyataan terakhir itu diulangi.
Kata pembukaan Sir Ernest dalam pembelaannya tidaklah panjang-lebar, tapi pidatonya tersebut dikuatkan oleh sikapnya yang tegas dan tidak ragu-ragu. Dia mengatakan, bahwa sebelumnya tak pernah dia menemukan kasus pembunuhan dengan bukti yang begitu sedikit. Dan kesaksian-kesaksian pun tidak hanya sedikit, tetapi juga tidak bisa dibuktikan. Penemuan botol strychnine di dalam laci yang tak terkunci bukan merupakan bukti bahwa terdakwalah yang melakukannya. Ada kemungkinan hal tersebut dilakukan oleh pihak ketiga untuk menjatuhkan terdakwa. Penuntut juga tidak bisa membuktikan bahwa terdakwalah yang memesan jenggot hitam dari Parkson. Pertengkaran antara terdakwa dengan ibu tirinya bisa diterima dan dibenarkan, tetapi masalah kesulitan keuangan terlalu dilebih-lebihkan.
Tuan Philips, rekan Sir Ernest, mengatakan bahwa apabila terdakwa memang tidak bersalah, seharusnya dia bisa mengatakan dengan terus terang bahwa dialah yang telah bertengkar dengan ibunya dan bukan Tuan Inglethorp. Kejadian tersebut disalah tafsirkan. Yang terjadi adalah begini. Ketika pulang pada hari Selasa malam, dia diberi tahu bahwa ada pertengkaran hebat antara Nyonya dan Tuan Inglethorp. Terdakwa tidak menyangka bahwa orang salah mengira suaranya sebagai suara Tuan Inglethorp. Dan tentu saja dia tahu bahwa ibu tirinya bertengkar dua kali dengan dua orang.
Penuntut menyatakan bahwa pada hari Senin, 16 Juli, terdakwa masuk ke dalam toko obat di desa dengan menyamar sebagai Tuan Inglethorp. Sebaliknya, pada hari itu terdakwa sebenarnya sedang berada di tempat terpencil bernama Marston's Spinney, karena diminta datang oleh seseorang yang tak mau menyebut dirinya. Dia terpaksa pergi karena mendapat ancaman dari orang tak dikenal tersebut yang bermaksud membeberkan beberapa rahasia pribadinya pada istrinya kalau dia tidak pergi. Terdakwa tentu saja pergi ke tempat tersebut. Tapi setelah menunggu dengan sia-sia selama setengah jam, akhirnya dia kembali. Sayang dia tidak bertemu dengan siapa pun di jalan. Tapi dia masih menyimpan surat kaleng tersebut.
Karena pernah belajar hukum dan berpraktek, terdakwa mengerti arti pernyataan dalam surat wasiat yang dibuat setahun yang lalu. Surat wasiat yang menguntungkan dirinya itu otomatis batal, karena ibu tirinya menikah lagi. Pembela akan memanggil saksi untuk mengatakan siapa yang memusnahkan surat wasiat yang baru. Akhirnya, pembela menunjukkan bahwa masih ada bukti lain yang memberatkan orang lain di samping John Cavendish. Dia menunjuk Lawrence Cavendish yang dikatakannya mempunyai bukti yang lebih memberatkan daripada John. Dia sekarang akan memanggil terdakwa.
John bersikap sangat baik. Dengan bimbingan Sir Ernest yang meyakinkan, dia menceritakan apa yang terjadi dengan baik. Surat kaleng yang ditujukan kepadanya dikeluarkan untuk diperiksa juri. Dengan terus terang dia mengakui kesulitan keuangannya dan pertengkaran dengan ibu tirinya. Pada akhir pemeriksaannya dia diam sebentar, lalu berkata, "Saya ingin menjelaskan satu hal. Saya menolak dan tidak setuju dengan insinyuasi Sir Ernest terhadap adik saya. Saya yakin bahwa adik saya tidak punya sangkut-paut dengan pembunuhan ini. " Sir Ernest hanya tersenyum dan berkata dengan matanya bahwa ucapan John memberikan kesan yang baik terhadap juri. Kemudian pemeriksaan dilakukan.
"Tadi Anda katakan bahwa Anda tidak menyangka orang lain akan salah mengira suara Anda sebagai suara Tuan Inglethorp. Bukankah itu aneh?"
"Saya kira tidak. Saya diberi tahu bahwa Ibu bertengkar dengan Tuan Inglethorp, karena itu saya tidak pernah berpikir bahwa hal itu terjadi."
"Juga tidak terpikir ketika Dorcas mengulang-ulang beberapa bagian dari percakapan
itu—yang tentunya Anda kenali?"
"Tidak."
"Ingatan Anda benar-benar tumpul!"
"Tidak. Ibu dan saya pada waktu itu bertengkar seru. Dan saya begitu marah sehingga tidak memperhatikan apa yang dikatakan Ibu."
Sikap tidak percaya Tuan Philips yang ditunjukkan di depan umum pada saat itu hanya merupakan kebiasaan yang dilakukannya di sidang pengadilan. Dia berpindah pokok pembicaraan.
"Anda mengeluarkan surat ini pada saat yang tepat. Apa Anda mengenali tulisan tangan ini?"
"Tidak."
"Bukankah tulisan ini mempunyai ciri-ciri yang sama dengan tulisan Anda—hanya divariasikan saja?"
"Tidak."
"Saya menganggap tulisan ini adalah tulisan tangan Anda!"
"Bukan."
"Saya menganggap bahwa karena Anda memerlukan suatu alibi, Anda lalu menulis surat palsu ini dan mengarang-ngarang suatu pertemuan yang tak pernah ada."
"Tidak."
"Bukankah fakta ini benar? Pada waktu Anda mengatakan sedang berada di tempat terpencil, sebenarnya Anda menyaru sebagai Tuan Inglethorp dan pergi ke toko obat di Styles St. Mary untuk membeli strychnine atas nama Tuan Alfred Inglethorp?"
"Tidak! Itu bohong."
"Saya menganggap bahwa dengan memakai baju seperti Tuan Inglethorp dan memakai jenggot palsu. Anda pergi ke toko obat itu dan membeli strychnine atas nama Tuan Inglethorp!"
"Itu sama sekali tidak benar."
"Kalau demikian saya akan menyerahkan pada juri untuk mempertimbangkan kesamaan antara tulisan tangan pada surat, buku catatan toko obat, dan tulisan Anda," kata Tuan Philips. Dia duduk dengan sikap seorang yang telah selesai melakukan tugasnya, tetapi tidak peduli dengan keputusan juri.
Karena sudah terlalu sore, persidangan akan dilanjutkan pada hari Senin. Poirot kelihatannya memikirkan sesuatu. Saya melihat kerut di antara kedua matanya.
"Ada apa, Poirot?" tanya saya.
"Ah, mon ami. Persoalan menjadi bertambah ruwet, ruwet."
Anehnya, saya merasa lega. Kelihatannya ada harapan besar bagi John Cavendish untuk lepas dari tuduhan. Ketika kami sampai di rumah, kawan kecil saya itu menolak tawaran Mary untuk minum teh.
"Terima kasih, Nyonya. Saya ingin masuk ke kamar saya."
Saya mengikuti dia. Dengan wajah tetap berkerut, Poirot mendekati meja dan mengeluarkan kartu permainan. Kemudian dia menarik kursi. Lalu dengan tenang menyusun rumah-rumahan dengan kartu-kartu tersebut. Saya merasa gemas. Tapi dia berkata mendahului saya, "Tidak, mon ami. Aku tidak sedang dalam masa kanak-kanak kedua! Aku hanya ingin menenangkan syarafku. Itu saja. Yang sedang kulakukan ini memerlukan ketrampilan dan ketepatan gerakan jari-jari. Dan dengan ketrampilan jari-jariku ini, kecekatan otak pun terbentuk. Dan aku memerlukannya sekarang!"
"Persoalannya apa?" tanya saya.
Dengan gebrakan di meja, Poirot merobohkan susunan kartu-kartu itu. "Begini, mon ami, Aku bisa membuat rumah bersusun tujuh, tapi aku tak bisa"—bruk— "menemukan"—bruk—" mata rantai terakhir yang pernah kukatakan padamu."
Karena saya tak tahu harus berkata apa, saya diam saja. Dia mulai menyusun rumah – rumahan itu lagi sambil berbicara terpatah-patah. "Begini! Disusun dengan—menumpuk—satu kartu—di atas—kartu lain—dengan—ketepatan matematis!"
Saya memperhatikan rumah kartu yang bertambah tinggi. Dia tak pernah ragu-ragu
ataupun gemetar. Benar-benar ketrampilan yang memerlukan kecepatan seorang tukang sulap. "Tanganmu sangat mantap. Aku hanya pernah melihatnya gemetar satu kali."
"Pasti ketika aku marah," kata Poirot dengan tenang.
"Ya! Kau sangat marah waktu itu. Kau masih ingat? Ketika kau menemukan ada seseorang yang telah membuka tas ungu Nyonya Inglethorp dengan paksa. Kau berdiri didekat perapian. Memegang-megang benda pajangan dengan tangan yang gemetar hebat! Pasti—" Saya berhenti bicara. Karena, dengan suara parau Poirot berseru dan sekali lagi merombak susunan rumah kartunya. Sambil menutup mata dengan kedua tangannya dia mengayunkan tubuhnya ke depan dan ke belakang seolah-olah menahan rasa sakit.
"Ya, Tuhan. Kenapa Poirot? Kau sakit?"
"Tidak—tidak," katanya tersendat. "Aku ha¬nya—ada ide timbul!"
"Oh! Salah satu 'ide-ide kecilmu' itu?"
"Ah, mafoiy bukan!" jawabnya. "Kali ini bukan ide kecil, tapi ide yang hebat! Menakjubkan! Dan kau—Kawan, yang telah memberikannya padaku!"
Tiba-tiba dia menggenggam lengan saya, dan mencium kedua pipi saya dengan hangat. Sebelum saya sadar dari rasa terkejut, dia telah lari ke luar. Mary Cavendish masuk ke kamar sesaat kemudian. "Ada apa dengan Tuan Poirot? Dia berlari-lari melewati saya sambil berteriak, 'Garasi! Tunjukkan di mana garasi Anda, Nyonya!' Sebelum saya sempat menjawab, dia sudah sampai di jalan."
Saya cepat-cepat melihat ke luar jendela. Memang dia ada di luar, tidak memakai topi. Saya menghadapi Mary dengan isyarat tanpa daya. "Sewaktu-waktu dia bisa dihentikan polisi. Itu dia—sampai di belokan!"
Kami saling berpandangan tanpa bisa berbuat sesuatu.
"Ada apa sebenarnya?"
Saya menggelengkan kepala. "Saya tidak tahu. Dia tadi menyusun rumah-rumahan dari kartu. Tiba-tiba sebuah ide muncul di kepalanya, lalu dia lari ke luar seperti yang Anda lihat."
"Baiklah. Saya rasa dia akan kembali sebelum makan malam."
Tapi sampai malam, Poirot tidak kembali.

Lanjut ke BAB DUA BELAS

Sunday, 1 November 2015

Agatha Christie - Misteri di Styles - BAB SEPULUH

BAB SEPULUH
PENAHANAN



Saya menjadi kesal ketika mendapat jawaban bahwa Poirot tidak ada karena sedang
ke London. Saya terdiam heran dan tidak mengerti. Apa yang dilakukan Poirot di London? Apakah dia memang sudah merencanakannya sejak lama atau merupakan keputusan
mendadak? Saya berjalan ke Styles dengan hati panas. Karena tak ada Poirot, saya tak tahu lagi apa yang harus saya lakukan. Apa dia telah memperkirakan penahanan ini sebelumnya? Ataukah dia yang menyebabkan penahanan ini? Saya tak tahu. Tapi sementara ini apa yang harus saya lakukan? Apakah sebaiknya saya memberitahukan penahanan ini di Styles? Tapi pikiran tentang Mary Cavendish membuat saya ragu - ragu. Apa tidak akan mengejutkan dia? Untuk sesaat saya menyingkirkan kecurigaan terhadap dirinya. Dia tak bisa dilibatkan. Tak ada tanda yang menunjuk ke arah itu.
Tentu saja penahanan Dr. Bauerstein tidak dapat disembunyikan terlalu lama. Koran pagi pasti memuat berita itu. Tapi rasanya sulit bagi saya untuk mengatakannya. Seandainya ada Poirot, saya pasti minta pendapatnya. Mengapa dia pergi ke London begitu saja? Rasa hormat saya pada Poirot semakin bertambah-tambah. Saya tak akan mencurigai dokter itu seandainya Poirot tidak menunjukkannya pada saya. Dia memang pandai. Setelah berpikir sejenak saya memutuskan untuk berbicara dengan John dan menyerahkan padanya apakah dia mau mengumumkan hal itu atau tidak. Dia bersiul ketika saya memberitahukan hal itu kepadanya.
"Ah! Kalau begitu kau benar. Aku tadinya tak percaya."
"Memang rasanya sulit dipercaya, tapi setelah dipikir-pikir, semuanya cocok. Sekarang kita mau apa? Besok pagi berita itu pasti sudah ada di koran."
John berpikir. "Tak apa," katanya. "Kita tak perlu berkata apa-apa sekarang. Tak ada gunanya. Besok toh semua orang tahu."
Tapi saya menjadi heran, ketika membuka koran pagi, tak ada berita secuil pun tentang penahanan itu. Memang ada berita tentang 'Kasus Peracunan di Styles', tapi tidak menyinggung tentang penahanan kemarin. Saya rasa Japp sengaja menyembunyikan berita itu. Hal itu agak menguatirkan karena ada kemungkinan akan terjadi penahanan-penahanan berikutnya.
Setelah sarapan, saya memutuskan untuk pergi ke desa menemui Poirot. Tapi sebelum berangkat sebuah wajah yang saya kenal muncul di jendela dan suaranya berkata, "Bon jour, mon ami"
"Poirot," saya berseru lega dan menariknya masuk ke dalam ruangan. "Dengar. Aku belum memberi tahu siapa-siapa kecuali John. Apa pendapatmu?"
"Hei. Aku tak tahu apa yang kaukatakan."
"Tentu saja penahanan Dokter Bauerstein," kata saya tak sabar.
"Kalau begitu dia ditahan?"
"Apa kau tidak tahu?"
"Sama sekali tidak." Dia berpikir sebentar, lalu menambahkan, "Tapi hal itu tak terlalu mengejutkan. Kita kan hanya empat mil dari pantai."
"Pantai?" saya bertanya bingung. "Apa hu¬bungannya? "
Poirot mengangkat bahunya. "Kan sudah jelas!"
"Aku tak mengerti. Apa hubungan antara pantai dengan pembunuhan Nyonya Inglethorp?"
"Tentu saja tidak ada," jawab Poirot dengan tersenyum. "Kita kan sedang bicara tentang penahanan Dokter Bauerstein."
"Ya, dia kan ditahan karena pembunuhan Nyonya Inglethorp—"
"Apa?" teriak Poirot dengan heran. "Dokter Bauerstein ditahan karena pembunuhan Nyonya Inglethorp?"
"Ya."
"Tak mungkin! Itu lelucon yang tidak lucu! Siapa yang mengatakannya?"
"Sebenarnya tak ada yang mengatakannya," saya mengaku. "Tapi dia ditahan."
"Oh ya, memang. Tapi karena spionase, mon ami."
"Spionase?" tanya saya menahan napas.
"Benar."
"Bukan karena meracuni Nyonya Inglethorp?"
"Kecuali kalau si Japp sudah tidak waras," jawab Poirot tenang.
"Tapi—aku pikir kau berpendapat begitu."
Poirot memandang saya dengan heran campur kasihan. Saya berkata pelan-pelan, "Jadi Dokter Bauerstein adalah seorang mata-mata?"
Poirot mengangguk. "Kau tak pernah mencurigainya?"
"Tak pernah terpikir olehku."
"Apa kau tidak curiga kalau seorang dokter terkenal dari London mengubur diri di sebuah desa kecil seperti ini? Dan punya kebiasaan jalan malam-malam dengan pakaian lengkap?"
"Tidak," saya mengakui. "Tak pernah."
"Tentu saja dia orang Jerman. Memang dia telah lama di sini sehingga orang menganggapnya sebagai orang Inggris. Dia menjadi warga negara Inggris lima belas tahun yang lalu. Seorang jenius—tentu saja. Dia Yahudi."
"Bajingan!" seru saya.
"Sama sekali bukan. Sebaliknya, dia adalah patriot. Coba pikirkan apa yang dia relakan untuk dikorbankan. Aku mengaguminya."
Tapi saya tidak bisa melihat hal itu dari sudut pandang Poirot. "Dan dengan laki-laki itulah Nyonya Cavendish berkeliling ke mana-mana!" seru saya kesal.
"Ya. Aku rasa Bauerstein memanfaatkan hal itu," kata Poirot. "Sepanjang orang sibuk menggosipkannya dengan Nyonya Cavendish, kelakuan-kelakuannya yang aneh tak akan diperhatikan orang."
"Kalau begitu kau menganggap dia sebenarnya tidak serius dengan Nyonya Cavendish?" tanya saya bersemangat.
"Wah, aku tak tahu hal itu. Tapi—aku punya pendapat pribadi, Hastings."
"Ya."
"Begini, Nyonya Cavendish sama sekali tidak peduli pada Dokter Bauerstein!"
"Benarkah?" Saya tak bisa menyembunyikan kegembiraan saya.
"Aku yakini hal itu. Aku beritahu kau sebabnya."
"Apa?"
"Karena dia mencintai orang lain, mon ami."
"Oh!"
Apa maksudnya? Saya merasakan suatu kehangatan menjalar di dalam tubuh saya. Saya bukanlah seorang laki-laki yang kurang menarik, dan saya teringat beberapa hal yang meskipun samar-samar tapi cukup memberi arti.
Kegembiraan saya terganggu oleh kedatangan Nona Howard. Dia melihat sekeliling untuk memastikan bahwa tak ada orang lain di situ. Dengan cepat dia mengeluarkan selembar kertas berwarna coklat yang diberikannya pada Poirot sambil bergumam, "Di atas lemari baju." Lalu dengan cepat dia meninggalkan kami. Poirot membuka lembaran kertas itu dengan tidak sabar dan berseru puas. Diletakkannya kertas itu di atas meja.
"Coba lihat, Hastings. Ini J. atau L.?"
Kertas itu berukuran sedang dan agak berdebu, seperti sudah lama. Tapi yang menarik Poirot adalah labelnya. Di bagian atas ada nama Messrs. Parkson, pemilik kostum teater yang sangat terkenal dan ditujukan kepada "—Cavendish, Esq.,-Styles Court, Styles St. Mary, Essex."
"Ini bisa T. dan bisa L.," jawab saya setelah memperhatikannya. "Tapi jelas bukan J."
"Bagus," jawab Poirot sambil melipat kertas itu lagi. "Aku juga berpendapat sama. Bisa L."
"Dari mana kertas itu?" tanya saya ingin tahu. "Apakah penting?"
"Tidak terlalu, tapi cukup penting untuk memperkuat dugaanku. Aku meminta Nona Howard untuk mencarinya setelah menarik sebuah deduksi dan dia ternyata berhasil."
"Apa maksudnya dengan 'di atas lemari baju'?"
"Dia menemukannya di atas lemari baju," kata Poirot cepat.
"Tempat yang aneh untuk selembar kertas coklat," gumam saya.
"Aku rasa tidak. Bagian atas lemari baju merupakan tempat yang baik untuk kertas coklat dan dos karton. Aku sendiri menyimpan barang-barang semacam itu di tempat yang sama. Kalau sudah teratur rapi, tak akan menyulitkan mata."
"Poirot," saya berkata dengan serius, "sudah punya putusan tentang tragedi ini?"
"Ya—maksudku, aku tahu bagaimana peracunan itu dilakukan."
"Ah!"
"Sayang aku tak punya bukti untuk dugaan-dugaanku, kecuali!" Tiba-tiba dia mencengkeram lengan saya dan membawa saya turun tangga sambil berceloteh dalam bahasa Prancis, "Made¬moiselle Dorcas, Mademoiselle Dorcas, un mo¬ment, s'il vous plait"
Dorcas yang mendengar suara-suara bising itu cepat-cepat keluar dari dapur. "Dorcas, aku memerlukan sesuatu yang mungkin bisa dijadikan bukti! Apakah pada hari Senin, ingat bukan Selasa tapi Senin sebelum hari naas itu—apakah pada hari itu bel Nyonya Inglethorp rusak?"
Dorcas kelihatan heran. "Ya. Benar, Tuan, memang benar. Heran. Bagaimana Tuan bisa tahu? Ada tikus atau binatang lain yang menggigit kabel bel. Tapi hari Selasa pagi ada tukang datang dan membetul¬kannya."
Dengan seruan gembira Poirot menggandeng saya kembali ke ruang lagi. "Lihat. Kita tidak harus selalu mencari bukti dari luar. Logika yang baik sudah cukup. Ah, Kawan, aku merasa gembira dan penuh semangat! Aku ingin berlari dan meloncat!"
Memang dia benar-benar berlari dan meloncat ke kebun melalui jendela yang panjang.
"Ada apa dengan teman kecil Anda itu?" tanya sebuah suara di belakang saya.
Ternyata Mary Cavendish. Dia tersenyum dan saya membalasnya.
"Ada apa sih?"
"Saya sendiri tak tahu. Dia bertanya kepada Dorcas tentang bel. Dan jawaban Dorcas
membuatnya gembira sehingga dia berlari-lari macam kuda lumping."
Mary tertawa. "Lucu sekali! Dia keluar gerbang. Kembali lagi tidak?"
"Saya tak tahu. Saya tak ingin lagi menebak nebak apa yang akan dilakukannya kemudian."
"Apa dia sinting, Tuan Hastings?"
"Saya benar-benar tidak tahu. Kadang-kadang dia memang seperti orang sinting. Tapi dalam keadaannya yang paling gila sekak pun dia punya suatu cara."
"Hm."
Walaupun tertawa, Mary kelihatan menyimpan persoalan. Wajahnya kelihatan sedih. Saya jadi teringat pada persoalan Cynthia. Barangkali ada baiknya kalau saya membicarakan hal itu dengannya. Tapi, sebelum saya membawa persoalan itu lebih jauh, dia menyetop saya dengan berkata, "Saya yakin bahwa Anda adalah seorang pengacara yang hebat, Tuan Hastings, tapi dalam hal ini kemampuan Anda tak ada gunanya. Cynthia tak akan berani
menghadapi kekejaman saya."
Ucapan saya menjadi kacau. Mudah-mudahan dia tidak berkata bahwa— sekali lagi kata-kata yang diucapkannya membuat saya semakin lupa pada Cynthia dan kesulitannya. "Tuan Hastings, Anda mengira bahwa saya dan suami saya bahagia?"
Saya sangat terkejut dan bergumam bahwa sebetulnya hal itu bukan urusan saya.
"Baiklah," katanya tenang. "Baik itu urusan Anda atau bukan, saya ingin mengatakan
bahwa saya tidak bahagia."
Saya diam saja karena saya melihat dia belum selesai bicara. Dia berjalan perlahan-lahan, mondar-mandir dalam ruangan. Kepalanya agak tertunduk dan tubuhnya yang semampai bergerak dengan luwes. Tiba-tiba dia berhenti dan memandang saya. "Anda tak tahu apa-apa tentang saya, bukan?" tanyanya. "Dari mana dan siapa saya sebelum menikah dengan John? Baik, akan saya jelaskan. Saya akan menganggap Anda pastor penerima pengakuan dosa. Saya rasa Anda baik—ya, saya yakin Anda baik."
Anehnya, saya tidak terlalu bergairah lagi. Saya ingat bahwa Cynthia pun menunjukkan rasa percayanya dengan cara yang sama. Dan lagi, seorang pastor penerima pengakuan dosa seharusnya seorang tua, bukan orang muda seperti saya.
"Ayah saya orang Inggris," kata Nyonya Cavendish, "tapi ibu saya Rusia."
"Ah, pantas—"
"Apanya yang pantas?"
"Ada sesuatu yang asing—lain—pada Anda."
"Ibu saya sangat cantik, saya rasa. Saya tak tahu karena belum pernah melihatnya. Dia meninggal ketika saya masih kecil sekali. Saya rasa kematiannya merupakan suatu tragedi—dia salah minum obat tidur—dengan dosis berlebihan. Pokoknya ayah saya patah hati. Setelah kejadian itu, Ayah bekerja di konsulat dan saya ikut ke mana pun dia pergi. Ketika saya berumur dua puluh tiga, saya telah menjelajahi hampir seluruh dunia. Kehidupan yang menyenangkan—saya benar-benar menikmatinya."
Bibirnya tersenyum, wajahnya cerah. Dia kelihatan sedang mengenangkan hari-hari
indah yang pernah dilaluinya. "Kemudian Ayah meninggal. Saya tak punya apa-apa. Saya harus tinggal dengan beberapa bibi di Yorkshire."
Badannya gemetar. "Anda pasti bisa mengerti betapa tersiksa rasanya hidup di sana setelah saya terbiasa dengan kehidupan yang sama sekali lain dengan Ayah. Lingkungan yang terbatas, dan cara hidup yang sangat rutin hampir membuat saya gila."
Dia diam sesaat, dan kemudian meneruskan dengan suara yang lain, "Kemudian saya bertemu dengan John Cavendish."
"Terus?"
"Dalam pandangan bibi-bibi saya, pertemuan saya dengan John merupakan hal yang menguntungkan. Mereka menganggap saya akan bahagia. Sebenarnya bukan hal ini yang memberatkan perasaan saya. Bukan, John hanyalah pelarian dari kehidupan sehari-hari yang monoton itu."
Saya hanya diam. Setelah itu dia melanjutkan, "Jangan salah mengerti. Saya cukup jujur. Saya mengatakan hal itu dengan terus terang. Saya sangat menyukai John dan saya berharap—lama-lama—bisa lebih dari sekadar menyukainya saja, tapi saya tidak merasa jatuh cinta padanya. Dia mengatakan bahwa hal itu sudah cukup baginya. Jadi—kami pun menikah."
Dia diam cukup lama. Dahinya berkerut. Kelihatannya dia merenung, mengenang kembali hari-hari yang telah lewat. "Saya rasa—saya yakin—mula-mula dia mencintai saya. Tapi mungkin kami kurang serasi. Sekarang saya merasa bahwa kami semakin jauh. Dia—ini suatu hal yang tidak menyenangkan saya, tapi merupakan kenyataan dia menjadi begitu cepat bosan dengan saya."
Saya tidak sadar dengan apa yang saya gumamkan. Dengan cepat dia berkata, "Oh ya, benar! Tapi sudahlah. Tak apa-apa. Memang tak lama lagi kami akan berpisah."
"Apa maksud Anda?"
Dia menjawab dengan tenang, "Saya tak akan tinggal di Styles."
"Anda dan John tak akan tinggal di sini?"
"Barangkali John akan tinggal di sini. Saya tidak."
"Anda akan meninggalkan dia?"
"Ya."
"Mengapa?"
Dia diam. Tapi akhirnya berkata, "Barangkali—karena saya ingin—bebas!"
Saya jadi membayangkan dunia yang luas, hutan rimba yang masih asli, daerah yang belum terjamah manusia dan suatu realisasi kebebasan bagi seseorang seperti Mary Cavendish. Saya melihatnya sebagai seorang makhluk yang angkuh, tak terjinakkan oleh peradaban, bagaikan seekor burung liar. Tiba-tiba dia berseru, "Anda tidak tahu—tidak tahu—betapa tempat ini seperti penjara rasanya!"
"Saya mengerti," kata saya, "tapi jangan tergesa-gesa."
"Oh, tergesa-gesa!" suaranya mengejek.
Tiba-tiba saja saya mengatakan sesuatu yang tidak ingin saya katakan, "Anda tahu bahwa Dokter Bauerstein ditahan ?"
Wajahnya mendadak berubah jadi dingin tanpa ekspresi. "John cukup baik memberi tahu saya tentang hal itu."
"Bagaimana pendapat Anda?" tanya saya takut-takut.
"Tentang apa?"
"Penahanan itu."
"Apa yang harus saya pikir? Dia adalah seorang mata-mata Jerman—kata tukang kebun pada John." Wajah dan suaranya dingin tanpa ekspresi. Apa dia memang tidak peduli? Dia berjalan satu-dua langkah. Kemudian tangannya memegang salah satu jambangan bunga. "Bunga ini sudah layu. Saya harus menggantinya. Maaf, Tuan Hastings, terima kasih,"
Dia berjalan melewati saya, keluar, dengan anggukan dingin. Pasti dia tidak peduli pada Bauerstein. Seorang wanita tak akan bisa bersikap sedemikian dingin bila dia mempunyai perasaan khusus pada seorang laki-laki.
Poirot tidak muncul keesokan paginya. Juga para petugas Scotland Yard. Tapi pada waktu makan siang kami mendapatkan sebuah bukti. Selama ini kami berusaha mencari tahu kepada siapa Nyonya Inglethorp mengirim suratnya yang keempat. Usaha kami sia-sia sehingga kami tidak lagi memikirkannya. Ternyata hari itu datang sebuah surat dari penerbit musik Prancis yang menyatakan menerima cek Nyonya Inglethorp dan meminta maaf karena tidak dapat mencarikan lagu-lagu rakyat Rusia yang diminta. Jadi harapan terakhir untuk memecahkan misteri melalui surat – surat Nyonya Inglethorp, terpaksa dilupakan saja.
Sebelum waktu minum teh, saya berjalan-jalan ke tempat Poirot untuk menceritakan hal tersebut. Tetapi saya bertambah kecewa karena dia tak ada di tempat.
"Ke London lagi?"
"Oh, tidak, Tuan. Dia naik kereta ke Tadminster. Untuk melihat ruang obat, katanya."
"Tolol!" seru saya. "Sudah diberi tahu kalau hari Rabu Cynthia tidak ada! Tolong beritahu dia supaya menemui saya besok pagi."
"Baik, Tuan."
Tapi besok paginya, Poirot tidak kelihatan. Saya menjadi marah. Dia benar-benar keterlaluan. Seenaknya sendiri. Setelah makan siang, Lawrence mengajak saya bicara. Dia bertanya apakah saya akan menemui Poirot.
"Saya rasa tidak. Dia bisa datang kalau mau menemui kita."
"Oh!" Lawrence kelihatan ragu-ragu. Saya menjadi curiga karena dia kelihatan gelisah dan tidak seperti biasa.
"Ada apa?" tanya saya. "Aku bisa pergi menemuinya kalau perlu."
"Tidak terlalu penting, tapi—kalau kau bertemu dengan dia katakan bahwa—" dia berbisik— "rasanya aku telah menemukan cangkir kopi ekstra, itu!"
Saya telah lupa pesan Poirot yang misterius itu, tapi kini rasa ingin tahu saya muncul
kembali. Karena Lawrence tak mengatakan apa-apa lagi, saya terpaksa tururi dari tahta keangkuhan saya. Sekali lagi saya berjalan menuju Pondok Leastways. Kali ini saya disambut dengan senyuman. Tuan Poirot ada di dalam. Saya pun naik. Poirot sedang duduk di kursi dengan kepala terbenam pada kedua tangannya. Dia berdiri begitu melihat saya masuk.
"Ada apa?" tanya saya cemas. "Kau tidak sakit, kan?"
"Tidak, jangan cemas. Aku sedang membuat keputusan penting."
"Untuk menangkap pembunuh atau tidak?" kata saya bercanda. Tapi Poirot mengangguk serius.
"Benar—itulah persoalannya."
Saya diam saja. "Kau serius, Poirot?"
"Aku serius sekali. Karena yang akan kulakukan amat besar pengaruhnya."
"Terhadap apa?"
"Kebahagiaan seorang wanita, mon ami" katanya dengan suara sedih.
Saya tak tahu harus berkata apa.
"Waktunya sudah tiba," kata Poirot. "Tapi aku tak tahu apa yang harus kulakukan. Apa yang akan kulakukan ini penuh risiko. Tak seorang pun kecuali saya—Hercule Poirot, akan bisa melakukannya!" Dan dia menepuk dadanya dengan bangga.
Kami diam sejenak. Aku tak jngin merusak rasa bangganya. Setelah itu saya menyampaikan pesan Lawrence.
"Aha! jadi dia telah menemukan cangkir kopi ekstra itu. Bagus. Ternyata dia seorang yang cukup cerdas!"
Saya sendiri tidak menganggap bahwa Lawrence cukup cerdas, tapi saya tak mau
mengeluarkan pendapat yang berlawanan dengan Poirot. Saya mengalihkan pembicaraan dan mengatakan pada Poirot bahwa saya sudah memberi tahu tentang hari libur Cynthia.
"Ya—benar. Aku memang pelupa. Tapi teman Nona Cynthia sangat baik. Dia merasa
kasihan melihatku kecewa. Karena itu dia menunjukkan ruang obatnya."
"Kalau begitu kau harus mengajak Cynthia minum teh—kapan-kapan." Saya menceritakan surat Nyonya Inglethorp.
"Sayang. Aku berharap bahwa surat itu bisa menjadi kunci yang akan membuka
tragedi ini. Kelihatannya kita harus melihat kembali semuanya dari dalam," Poirot berkata sambil memukul dahinya. "Semua tergantung pada sel-sel kelabu kita." Lalu dia menambahkan, "Apa kau mengerti tentang sidik jari?"
"Tidak. Aku tahu bahwa tak ada sidik jari yang sama. Itu saja yang kuketahui."
"Benar."
Dia membuka sebuah laci kecil, mengambil beberapa foto dan diletakkannya di meja. "Telah kuberi nomor. Satu, dua, tiga. Coba jelaskan."
Saya memperhatikan foto itu. "Semua sudah diperbesar. Nomor satu adalah sidik jari seorang laki-laki; ibu jari dan jari telunjuk. Nomor dua adalah sidik jari seorang wanita, lebih kecil dan berbeda. Nomor tiga— "Saya berpikir sambil memperhatikan baik-baik "kelihatannya campur aduk. Tapi yang ini jelas sama dengan yang nomor satu."
'Tumpang tindih?"
"Ya."
"Kau yakin?"
"Oh, ya, yang dua ini identik."
Poirot mengangguk. Dengan hati-hati dipegangnya foto itu, dimasukkannya ke dalam laci, dan dikuncinya laci itu.
"Kau pasti tak akan memberi tahu aku tentang sidik jari itu, kan?"
"Sebaliknya. Nomor satu adalah sidik jari Tuan Lawrence. Nomor dua milik Nona Cynthia. Keduanya tidak penting. Aku hanya mengambil untuk perbandingan. Nomor tiga agak sulit."
"Ya."
"Masih kabur walaupun sudah diperbesar. Aku tak akan menjelaskan tentang teknik dan peralatan yang dipakai untuk memperbesar. Polisi biasanya mengenal proses itu. Sekarang tentang benda yang ada sidik jarinya."
"Teruskan—kedengarannya sangat menarik."
"Eh bien. Foto nomor tiga merupakan foto botol kecil yang sudah diperbesar. Botol itu dari lemari atas ruang obat Nona Cynthia. Botol racun"
"Ya, Tuhan!" seru saya. "Tapi apa yang dilakukan Lawrence Cavendish? Dia tidak mendekati lemari racun itu ketika kami mampir ke sana."
"Kau keliru."
"Tak mungkin. Kami selalu bersama."
"Ada suatu saat ketika kau tidak bersama dia. Kalau tidak, pasti kalian tak perlu memanggil Tuan Lawrence ke balkon."
"Ya, aku lupa itu," kata saya mengaku. "Tapi itu hanya sebentar."
"Cukup lama."
"Cukup lama untuk apa?"
Senyum Poirot menjadi misterius. "Cukup lama bagi seseorang yang pernah belajar kedokteran untuk memuaskan rasa ingin tahunya."
Mata kami saling berpandangan. Poirot kelihatan ragu-ragu. Akhirnya dia berdiri sambil bersenandung kecil. Saya memandang dengan rasa curiga. "Poirot, apa sebenarnya yang ada dalam botol itu?"
Poirot memandang ke luar jendela. "Hydro-chloride strychnine," katanya sambil lalu, sambil terus bersenandung.
"Ya, Tuhan," kata saya pelan. Saya tidak heran karena telah memperkirakan jawaban
itu, "Mereka memakai hydro-chloride strychnine murni sedikit sekali—hanya untuk pil. Yang sering dipakai adalah yang berbentuk cair. Karena itu sidik jari ku tak terhapus."
"Bagaimanakau bisa memperoleh sidik jari ini?"
"Aku melemparkan topiku dari balkon," kata Poirot. "Tamu tidak diperbolehkan masuk di bagian bawah pada jam tersebut, jadi teman Nona Cynthia terpaksa turun mengambil topiku."
"Kalau begitu kau memang tahu bahwa akan mendapatkan sidik jari ini?"
"Tidak. Aku hanya melihat kemungkinan bahwa Tuan Lawrence bisa mengambil racun setelah mendengar ceritamu. Kemungkinan itu harus dikuatkan atau dianggap tidak ada."
"Poirot, aku menganggap penemuan ini sangat penting."
"Aku tak tahu," kata Poirot. "Tapi ada satu hal yang menarik. Dan aku rasa juga menarik bagimu."
"Apa itu?"
"Ya—dalam kasus ini ternyata kita menemukan terlalu banyak strychnine. Ini adalah yang ketiga. Yang pertama dalam tonik Nyonya Inglethorp. Lalu yang dijual di rumah obat oleh Mace. Dan sekarang yang ini. Terlalu membingungkan. Dan aku tidak suka hal-hal yang membingungkan."
Sebelum saya menjawab, salah seorang Belgia yang tinggal di situ menjengukkan kepalanya dari pintu. "Ada seorang wanita yang ingin bertemu dengan Tuan Hastings."
"Wanita?"
Saya meloncat, Poirot mengikuti saya. Ternyata Mary Cavendish berdiri di depan pintu.
"Saya baru saja menengok seorang wanita tua di desa," katanya. "Karena Lawrence mengatakan bahwa Anda sedang bertamu ke tempat Tuan Potrot, saya lalu mampir kemari sebentar."
"Saya kira Anda mau berkunjung ke tempat saya," kata Poirot.
"Lain kali," katanya sambil tersenyum.
"Baiklah. Seandainya Nyonya memerlukan seorang pastor penerima pengakuan dosa," —Mary Cavendish kelihatan sedikit kaget— "ingat, ada Pastor Poirot."
Dia memandang Poirot beberapa menit, seolah-olah ingin tahu apa sebenarnya maksud kata-kata Poirot. Kemudian dia berbalik. "Mari, Tuan Poirot, Anda bisa ikut kami ke Styles."
"Dengan senang hati, Nyonya." Sepanjang jalan ke Styles, Mary bicara banyak dan cepat. Kelihatannya dia takut pada pandangan mata Poirot. Cuaca sudah berubah. Musim gugur sudah di ambang pintu. Angin bertiup kencang dan dingin.

Lanjut ke BAB SEBELAS